Opini

Mamaknai Kebenaran yang Hakiki | oleh: Mieftah Farid R

295
×

Mamaknai Kebenaran yang Hakiki | oleh: Mieftah Farid R

Sebarkan artikel ini
KAJIAN AGAMA: Beberapa orang sedang diskusi mengenai agama Islam, filsafat, dan ilmu pengetahuan. (ilsutrasi/meta ai)

Bismillahi walhamdulillah, wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah. Dalam kehidupan sosial bermasyarakat atau yang disebut hablum minannas, sangat sering  menjumpai banyak perdebatan untuk saling menunjukkan siapa yang paling benar dalam pembuktian fakta.

Karena di masyarakat,  selalu saja benar diakui  sebagian masyarakat. Namun salah bagi sebagian lain. Sejatinya kebenaran absolut hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti dalam firmanNya pada QS Al- Baqarah: 147, “Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu”.

Meskipun banyak riwayat  yang menyatakan jawaban para sahabat ketika dihadapkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab selalu mengatakan “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Dalam hal ini kebenaran tidak hanya milik Allah namun juga milik Rasulullah.

Kebenaran tidak hanya bisa dilihat dari satu sudut pandang. Tidak bisa mendapat kebenaran yang hakiki jika tidak memiliki sifat mengalah dan menerima serta harus mampu menyimpulkan secara luas.

Contohnya  bunga mawar yang memiliki ketidaksempurnaan kelopak. Ada dua sudut pandang manusia yang masing-masing hanya melihat dari satu sisi saja. Seorang mengatakan bunga mawar tersebut sangat elok dan menawan, namun orang lain menyatakan bunga mawar tidak indah karena rusaknya beberapa helai kelopak.

Karena tidak memiliki sifat mengalah dan menerima, mereka tetap mempertahankan pendapatnya masing-masing. Namun, orang datang dengan melihat dari keseluruhan sudut bunga mawar tersebut dan menyatakan sejatinya bunga mawar  indah jika kelopaknya sempurna dan tidak ada yang rusak.

Kesimpulannya, kebaikan atau keburukan tidak boleh dipisahkan jika masih dalam satu kesatuan. Karena mereka saling berdampingan, hanya saja membutuhkan keikhlasan untuk dapat melihat dan menerimanya serta menjadikan semuanya menjadi sebuah kesimpulan kebenaran yang absolut.

Contoh kecil tersebut dapat kita terapkan dikehidupan dalam menjalani dan menghadapi hal-hal besar yang akan terjadi didepan kita. Selalu bijak dalam melihat, menilai serta menyimpulkan sebelum memutuskan suatu kebenaran, agar mendapat suatu sudut pandang kebenaran yang hakiki atau kebenaran yang dapat diakui oleh siapapun.

Memahami Agama Tidak Sederhana

Dalam memahami kebenaran dan mewujudkannya dalam kehidupan, baik menyangkut agama maupun keduniaan atau bermasyarakat, tidaklah sederhana. Memahami agama harus mendalam, luas, dan menyeluruh sehingga diperoleh substansi yang hakiki atau dalam referensi Islam klasik memenuhi aspek syariat, hakikat, dan makrifat.

Meski demikian, sebenar-benarnya pemahaman akan kebenaran agama, selalu terbatas oleh pemahaman relatif. Ajaran Islam itu absolut benar, tetapi pemahaman orang terhadap Islam bersifat relatif. Kebenaran juga perlu diwujudkan melalui cara yang tidak mudah dan tidak sederhana. At-tariqah khairu mina al-madah, jalan atau cara itu harus jauh lebih baik ketimbang isinya.

Islam telah mengajarkan betapa pentingnya tabayyun seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada QS Al-Hujurat : 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Dalam dunia modern seperti saat ini sebenarnya tabayyun sama dengan atau dapat diartikan cek dan ricek atas sebuah kabar atau berita yang beredar. Ironisnya kini banyak masyarakat yang melupakan pentingnya tabayyun.

Ada cerita di zaman Rasulullah SAW. Ketika itu ada seorang bernama Abdullah bin Ubay yang menyebarkan fitnah atas diri Aisyah RA, istri Rasulullah SAW.

Dengan cepat rumor tentang Aisyah itu beredar di kalangan penduduk Madinah dan meresahkan Rasulullah SAW serta para sahabat. Disebutkan dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW pun sempat bimbang dengan adanya rumor tersebut.

Hingga akhirnya sebulan setelah rumor beredar, Allah SWT menunjukkan kebenaran untuk membantah fitnah Abdullah bin Ubay atas diri Aisyah istri Rasulullah SAW.

Menjauhi Fitnah dan Kabar Bohong

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS An Nur: 12, “Mengapa di saat kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.

Mari berdoa dan berlindung kita kepada Allah SWT agar diberi kekuatan untuk menghindari perbuatan fitnah dan terhindar dari berbagai macam fitnah.

Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah al-masikh ad-Dajjal. (hadits riwayat Imam Muslim dari Anas dan Abu Hurairah).

Kebenaran dalam hukum Islam dapat dilihat dari beberapa sisi, yaitu agama, filsafat dan ilmu pengetahuan. Agama Islam bersifat universal, mencakup semua manusia di dunia ini, tidak dibatasi oleh lautan maupun batasan suatu negara.

Sedang filsafat adalah kajian tentang standar kebenaran amat penting karena salah satu definisi filsafat adalah cinta kebenaran. Aristoteles, filosof Yunani yang termahsyur, sangat menghormati dan kagum kepada gurunya Plato, namun dia lebih menghargai kebenaran daripada Plato.

Aristoteles pernah berkomentar, Plato bernilai dan kebenaran bernilai, tanpa kebenaran lebih bernilai daripada Plato, pendapat atau golongan ini merasa dirinya yang paling besar, sehingga timbullah tanda tanya dalam dirinya, aliran manakah yang paling besar dari semua aliran itu.

Kemudian al-Gazali mempelajari filsafat, ternyata dalam filsafat ia tidak menemukan yang dicari, bahkan dia melihat dalil-dalil filsafat bisa menyesatkan.

Karena dia mengkritik pendapat filosof dan selanjutnya dia mempelajari pelajaran batiniah yang beranggapan bahwa kebenaran itu berasal dari iman yang maksum (bebas dari dosa). Pada awalnya al-Gazali tertarik pada ajaran ini, tetapi kemudian bertanya-tanya kriteria iman yang maksum itu. Bukankah nanti akan muncul yang mengaku-aku dirinya iman yang maksum sehingga akan muncul taklid buta kepada guru yang maksum itu. Kata al-Gazali.

Keinginan al-Gazali adalah untuk mencari kebenaran yang hakiki, yaitu kebenaran yang tidak diragukan lagi, seperti sepuluh lebih banyak dari pada tiga. Sekiranya ada orang yang mengatakan bahwa tiga lebih banyak dari sepuluh dengan menyatakan bahwa tongkat bisa dijadikan ular, dan hal itu memang dia lakukan.

Al-Gazali kagum akan kemampuannya, tetapi sungguhpun demikian keyakinannya sepuluh lebih banyak dari tiga tidak akan goyang. Kebenaran semacam inilah yang ingin dicari oleh al-Gazali.

Pemikiran Al Gazali

Akhirnya, al-Gazali sampai pada kebenaran yang demikian dalam tasawuf setelah dia mengalami proses yang amat panjang dan berbelit-belit. Tasawuflah yang menghilangkan keraguannya. Pengetahuan mistik, menurutnya adalah cahaya yang diturunkan oleh Allah ke dalam dirinya.

Filsafat, kebenarannya adalah relatif, dan tidak ada satupun yang mutlak sempurna. Jika satu masalah tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan, maka filsafat pun terdiam dan memberikan jawaban dugaan, spekulasi, terkaan, sangkaan dan perkiraan, maka manusia berada dalam kebingungan.

Ilmu pengetahuan adalah ilmu yang secara sistematis dan metodis, pendekatan yang digunakan adalah empiris, terikat dimensi ruang dan waktu serta berdasarkan kemampuan panca indera manusia, rasional dan umum dan para ahlinya dapat mempergunakan proposisi.

Agama adalah kumpulan aturan tentang cara-cara mengabdi kepada tuhan dan harus dibaca serta memiliki sifat mengikat. Aturan yang datangnya lebih tinggi dari Tuhan, manusia sebagai pelaksana aturan tersebut. Karena dengan aturan tersebut seseorang akan mendapatkan sanksi apabila dia tidak melaksanakan aturan-aturan yang ditetapkan oleh tuhan. Dan agama menjadi persoalan sarat emosi, subjektivitas, kecenderungan dan kadang sifat tidak mengenal tawar-menawar. Agama kebenarannya adalah mutlak sedangkan filsafat dan ilmu pengetahuan kebenarannya relatif. Wallahu a’lam bish-shawabi. (*)

——————–

Penulis adalah Tenaga Kependidikan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta