Gunungkidul, ZonaJogja.Com – Warga Gunungkidul berbondong-bondong menyaksikan Puncak Gebyar Keistimewaan 2025 di Alun-Alun Wonosari, Minggu (31/8/2025) malam.
Acara ini memperingati 13 tahun Undang Undang Keistimewaan DIY. Suasananya meriah. Panggung berukuran besar didirikan di sisi utara alun-alun.
Di depan panggung, ratusan orang duduk beralaskan tikar menghadap panggung dengan sorotan lampu warna-warni.
Panggung berukuran besar ini memungkinkan masyarakat dan para tamu undangan dapat menonton suguhan acara dari kejauhan.
Panitia mendirikan tenda yang berjarak sekitar 60 meter dari panggung. Tenda ini dilengkapi meja dan kursi.
BERITA LAIN: Pencapaian Inovasi Smart City Menggembirakan, Menteri Komdigi Apresiasi Kepala Daerah

Sisi kiri panggung terdapat deretan tenda warna putih berukuran 2×2 meter per segi. Sementara persis di samping tenda para tamu undangan juga didirikan tenda yang menghadap panggung.
Sementara sisi barat alun-alun juga terdapat puluhan tenda untuk acara bazar UMKM.
Pada Puncak Gebyar Keistimewaan ini, Paniradya Kaistimewan DIY bekerjasama Dinas Koperasi dan UMK DIY menyediakan puluhan tenda.
Diikuti pelaku usaha mikro kecil dan menengah dari Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, dan Kulon Progo.
Jumlah tersebut belum termasuk puluhan masyarakat yang setiap malam membuka lapak di kawasan Alun-Alun Wonosari.
Mereka menjajakan produk kreatif khas daerah. Juga ada produk kuliner, kerajinan, serta pameran pembangunan yang menggambarkan komitmen DIY dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai program pemberdayaan.
BERITA LAIN: Bupati Harda Kiswaya: Depok dan Gamping Harus jadi Pelajaran, Lurah Sarbini Kukuhkan Pengurus LKK Periode 2025-2030

Antusiasme masyarakat menyaksikan Puncak Gebyar Keistimewaan membuat jalan-jalan di sekitar Alun-alun dipenuhi sepeda motor dan kendaraan roda empat.
Pengunjung yang ingin melihat penampilan Bintang Tamu Jikustik mencapai ribuan orang.
Saat narasi musik menggelegar terdengar di panggung, para penonton mendekat ke area panggung.
Acara dimulai permainan lampu dan musik yang menampilkan logo Kraton Yogyakarta dan Kadipaten Puro Pakualaman. Dilanjutkan tarian kolosal yang melibatkan puluhan penari, dan doa untuk Ibu Pertiwi.
Gubernur Sultan HB X menyatakan, peringatan bukan semata-mata pengulangan ritual tahunan. Tetapi, momentum menghidupkan kembali makna, sekaligus meneguhkan langkah ke depan.
Begitu pula dalam memaknai Keistimewaan. Keistimewaan bukan hanya soal budaya dan tata kelola, tetapi juga spiritualitas kebersamaan.
BERITA LAIN: Kelas Juragan Gelar “Karnaval Dua Kampung”, Dilaksanakan di Jalan Taqwa 30-31 Agustus

Keistimewaan bukan hanya warisan legal formal. Namun, sebagai laku keseharian masyarakat
Keistimewaan juga bukan milik satu golongan. Melainkan milik bersama seluruh warga Yogyakarta, apapun peran dan posisinya.
“Keistimewaan DIY hakikatnya adalah menjaga warisan leluhur dan memastikan relevansinya dengan zaman,” kata ,” tandas Gubernur dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pelaksana Tugas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat sekaligus Paniradya Pati Kaistimewan, Aris Eko Nugroho.
Sultan lantas menyinggung maraknya demonstrasi dalam beberapa hari terakhir.
Sultan kembali menegaskan, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta menjunjung tinggi nilai tepo seliro, empan papan, dan semangat musyawarah dalam keseharian melalui dialog.
BERITA LAIN: Kerjasama dengan Bank Mega Syariah, Lazismu Kota Yogyakarta Serahkan Beasiswa Mentari
Nilai-nilai itu menjadi penyangga penting di tengah dinamika sosial yang sering terjadi gesekan.
Gubernur mengajak seluruh masyarakat tetap menjadikan dialog sebagai cara utama dalam menyampaikan aspirasi.
“Saya berharap Yogyakarta terus menjadi ruang teduh, dimana aspirasi disampaikan lewat jalan dialog dan musyawarah, bukan konflik,” pinta Gubernur.
Nilai-nilai itu selaras tema “Mupakara Gunita Prasanti Loka” yang diusung dalam peringatan ke-13 tahun pengesahan Undang-Undang Keistimewaan DIY.
Mupakara merupakan bentuk penghormatan. Gunita adalah kesadaran asal-usul dan jati diri. Sedangkan Prasanti Loka menggambarkan Yogyakarta adalah tempat meneduhkan dan memberdayakan masyarakat.
Puncak Gebyar Keistimewaan DIY juga memamerkan berbagai program Keistimewaan, termasuk menarasikan perjalanan dan capaian DIY dalam bidang kebudayaan, tata kelola pemerintahan, dan pembangunan yang berakar pada nilai lokal.
BERITA LAIN: Dinsosnakertrans Kota Yogyakarta Buka Layanan Jamkesus Terpadu, Puluhan Penyandang Disabilitas Terima Alat Bantu

Diikuti pelaku usaha mikro kecil dan menengah dari Gunungkidul, Kota Yogyakarta, Sleman, Bantul, dan Kulon Progo. (azam/zonajogja.com)
Di pintu masuk, pengunjung disambut gapura berbentuk simbol geometri segitiga yang menyerupai manusia sedang berdoa.
Ada focus group discussion, pentas seni budaya, pemutaran film tentang Keistimewaan.
Masyarakat telah dihibur sejak 30 Agustus. Ada penampilan Syntesa Band, GMC All Star Band, The Must Dark, penampilan Petik Cantik Nusantara, Pasukan Sirkus, dan kelompok musik Untumusik.
Puncak hiburan malam pertama ditutup penampilan Kyai Kanjeng. Hari kedua, ada penampilan Sanggar Pujo Sunakmo, Vinsday Band, Sarjiah Band, Bayu Madhu Swara.
Lalu, Flawles Band, The Produk Gagal, dan diakhiri penampilan Jikustik. Depan ribuan penonton, Jikustik menyuguhkan lagu-lagu yang kondang di tahun 2000an. (*)











