Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Ribuan orang menyaksikan Jogja Takbir Festival (JTFest) 1446 H yang digelar 8 Juni lalu.
Acara yang diselenggarakan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Yogyakarta ini mengusung tema “Hamemayu Hayuning Bawana: Merawat Dunia dengan Syiar dan Budaya”.
Tema tersebut merupakan penegasan Islam dan budaya tidak berseberangan, melainkan saling menguatkan dan melengkapi.
Kesenian tradisional bukan hanya tontonan, tetapi juga sarana menyampaikan pesan, menjaga warisan, dan menyebarkan nilai Islam yang ramah.
Festival ini menjadi ruang pertemuan nilai-nilai keislaman dan kearifan budaya lokal Yogyakarta.
BERITA LAIN: Kopeng, Tempat Menyenangkan di Lereng Gunung Merbabu
Masyarakat berdiri di sepanjang jalan menyaksikan arak-arakan yang bergerak dari Kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menuju Balaikota Timoho Yogyakarta.
Jogja Takbir Festival yang diikuti 13 kafilah ini dibuka penampilan atraktif Tapak Suci UAD.
Dilanjutkan penampilan penyandang difabel netra bersuara merdu yang bernyanyi di panggung.
Setelah ditandai pemukulan gong oleh para tamu undangan, peserta festival berjalan menuju Balaikota Timoho yang berjarak sekitar 800 meter.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Aris Madani memberi apresiasi kepada AMM yang sukses menyelenggarakan Jogja Takbir Festival.
BERITA LAIN: Dua Kabupaten di DIY jadi Sasaran Mandiri Sahabat Desa, 200 Keluarga Risiko Stunting Dirangkul
“Selamat dan sukses. Kegiatan ini menjadi wadah ekspresi yang sangat penting bagi generasi muda Islam,” kata Aris.
Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan yang menyaksikan acara ini menegaskan gema takbir bukan hanya ritual seremonial.
Gema takbir bukan hanya wujud ketakwaan individual. Tapi pesan damai dan semangat persaudaraan kepada seluruh masyarakat.
Jogja Takbir Festival dapat mempererat kohesi sosial masyarakat Yogyakarta yang majemuk, serta mensyiarkan nilai keberagamaan yang damai, humanis, dan menyejukkan.
“Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi kita semua. Masyarakat Yogyakarta semakin tenteram, guyub, dan rukun,” kata Wawan. (*)











