Opini

Multiplier Effect Program MBG, dari Urusan Piring ke Perekonomian | oleh” Dhian Novitasari

267
×

Multiplier Effect Program MBG, dari Urusan Piring ke Perekonomian | oleh” Dhian Novitasari

Sebarkan artikel ini
PROGRAM MBG: Dua pelajar di Kota Yogyakarta sedang menikmati makan bergizi. Nawaitunya, dari satu piring makanan bergizi, lahir harapan baru bagi kualitas pendidikan, kesehatan, hingga penguatan sektor ekonomi masyarakat. (Diskominfosan Kota Yogyakarta)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) dicetuskan pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini didesain untuk meningkatkan gizi dan kesehatan para pelajar, serta mendukung tumbuh kembang generasi muda yang sehat, cerdas, dan berprestasi.

Pada praktiknya, program MBG bukan sekadar menyediakan makanan sehat bagi anak sekolah. Tetapi berperan besar menggerakkan roda perekonomian melalui usaha mikro kecil dan menengah (UMK).

Nawaitunya,  dari satu piring makanan bergizi, lahir harapan baru bagi kualitas pendidikan, kesehatan, hingga penguatan sektor ekonomi masyarakat.

Kota Yogyakarta dengan identitasnya sebagai kota pelajar sekaligus pusat UMKM kreatif, menjadi contoh menarik untuk melihat program ini memberi multiplier effect yang nyata.

Dari aspek pendidikan, MBG membantu anak-anak memperoleh asupan gizi seimbang yang menunjang konsentrasi belajar dan prestasi akademik.

Pola konsumsi sehat yang dikenalkan sejak dini juga membentuk kebiasaan baik dalam jangka panjang,  karena kualitas generasi muda akan menentukan daya saing kota ini di masa depan. Apalagi Kota Yogyakarta menjadi tujuan utama ribuan pelajar dari berbagai daerah.

Menghidupi Banyak Keluarga di Daerah

Tidak berhenti di sekolah, peran MBG merambah ke dunia ekonomi lokal. Program ini membutuhkan pasokan bahan pangan berkualitas dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

Dengan melibatkan petani, nelayan, peternak, hingga UMKM pengolahan pangan di sekitar Yogyakarta, tercipta pasar baru yang stabil.

Petani sayuran di Sleman, produsen tempe di Bantul, atau penyedia olahan ikan di Gunungkidul berpotensi menjadi bagian dari rantai pasokan untuk MBG.

Artinya, setiap piring makanan bergizi yang disajikan di sekolah juga menghidupi banyak keluarga di daerah.

Program MBG  juga mendorong tumbuhnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, sekolah, penyedia logistik, hingga komunitas masyarakat dapat saling bahu membahu agar program berjalan efektif.

Dengan mekanisme distribusi yang melibatkan aktor lokal, tercipta ekosistem yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Bahkan, program ini dapat menjadi pemicu inovasi dalam rantai pasok pangan, seperti pengembangan sistem distribusi digital, dapur sehat sekolah, hingga pelatihan UMKM dalam pengolahan makanan bergizi.

Jadi Strategi Jangka Panjang

Sekadar diketahui, multiplier effect MBG mencakup tiga aspek utama. Yakni, kesehatan generasi muda yang lebih terjamin, penguatan ekonomi lokal yang berbasis produk daerah, serta terbentuknya solidaritas sosial yang mempererat masyarakat.

Dengan demikian, MBG bukan hanya solusi jangka pendek untuk menekan stunting, melainkan juga strategi jangka panjang untuk menciptakan Kota  Yogyakarta yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) direncanakan terus berlanjut hingga akhir tahun 2025 dengan target 82,9 juta penerima.

Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 335 triliun pada tahun 2026 untuk memperluas jangkauan program MBG.

Harapannya, program strategis ini  memberi dampak positif bagi sektor ekonomi lokal dalam perputaran pasok bahan baku dan serapan tenaga kerja dapur. (*)

————–

  • Anggota Fraksi Partai Gerdindra DPRD Kota Yogyakarta
  • Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi S2 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Yogyakarta