Tutup
Kronika

30 Sastrawan Muda Beraksi, Kota Yogyakarta Juara Umum Kompetisi Bahasa dan Sastra DIY

79
×

30 Sastrawan Muda Beraksi, Kota Yogyakarta Juara Umum Kompetisi Bahasa dan Sastra DIY

Sebarkan artikel ini
JUARA UMUM: Kontingen Kota Yogyakarta. (retno ismawati)

YOGYAKARTA, ZonaJogja.Com – Kota Yogyakarta kembali menjadi Juara Umum dalam Kompetisi Bahasa dan Sastra tingkat DIY dengan capaian sebesar 99 point. Point tersebut disumbang oleh

Tigapuluh sastrawan muda menyumbang  Kota Yogyakarta kembali menjadi juara umum Kompetisi Bahasa dan Sastra Tingkat DIY dengan skor 99.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Rinciannya, juara 1 delapan orang, juara 2 (7), juara 3 (4), juara harapan I (8), dan juara harapan 2 (3).

Sedangkan lomba yang diikuti  macapat; geguritan; cerkak; sesorah; alih aksara; panatacara; serta stand up comedy Bahasa Jawa. Seluruh lomba untuk tingkat SD, SMP dan SMA.

Penyerahan tropi juara umum ini dilaksanakan di Pendopo Dinas Kebudayaan DIY, akhir pekan kemarin.

BACA JUGA: Marwoto Hadi: Bisa Tidak, Jalan Sekali Bongkar untuk Proyek Bersamaan?

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos, M.M mengucapkan selamat kepada kontingen Kota Yogyakarta yang telah berjuang membawa nama harum bagi Kota Yogyakarta.

”Saya berharap prestasi ini terus mengupayakan konsistensi dalam pembinaan dan pelestarian bahasa dan sastra di Kota Yogyakarta,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti SSos MM.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Retno Ismawati mengatakan, prestasi tersebut hasil pelatihan yang dilakukan secara intensif sebelum kontingen maju ke tingkat DIY.

Ia berharap kecintaan  bahasa sastra dan aksara Jawa di kalangan anak muda semakin tumbuh.

BACA JUGA: Dilengkapi Sensor, Tongkat Ini Bisa Deteksi Tempat Gelap dan Genangan Air

Kata Retno, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta intens melakukan pembinaan terhadap anak-anak muda.

“Seperti juga atlet. Anak-anak muda yang memiliki talenta dalam sastra Jawa harus dikelola dengan baik,” ujarnya.

Misalnya melalui membangun jejaring kerjasama dengan komunitas sastra, sanggar seni, sekolah, dan  masyarakat pecinta sastra. (*)