oleh

Mahasiswi Ini Bikin Deg-Degan Siapa Saja yang Diswab

YOGYAKARTA – Ini adalah kisah seorang mahasiswi yang menjadi relawan di Posko Dukungan Satgas Penanganan COVID-19 BPBD DIY.

Namanya Anisa Khusnul Khotimah. Gadis berwajah ayu ini masih menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.

Kuliah di Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Kampusnya berlokasi di Ring Road Barat, Mlangi, Sleman.

Sejak masih SMA, Nisa menyukai kegiatan sosial dan berbagai aksi kemanusiaan. Itulah sebabnya ketika ada program relawan penanganan COVID-19,  Nisa mendaftarkan diri.

Ia bergabung menjadi tenaga kesehatan di Posko Dukungan Satgas Penanganan COVID-19 di bawah pengelolaan Tim Reaksi Cepat BPBD DIY.

BACA JUGA: Ini Jawaban Sekda Baskara Aji setelah Pemda DIY Ditegur Mendagri

“Saya gabung sejak November 2020,” kata Nisa kepada ZonaJogja.Com.

Nisa mengakui sempat ketakutan kali pertama menjadi relawan. Pasalnya, mahasiswa semester 8 jurusan Keperawatan ini harus berhadapan dengan virus corona.

Sehari-hari harus menghadapi “musuh” tidak terlihat.  Ia berada di sekeliling para relawan yang bertugas melakukan evakuasi warga yang meninggal karena gagal diselamatkan secara medis.

Nisa bertugas  di pos rapid test antigen. Ia mendata siapa saja yang diswab. Nisa pula yang mengumumkan siapa yang “negatif”, siapa yang “positif”.

Artinya, ia harus berhadapan dengan orang-orang yang belum diketahui kondisinya.

“Saya dan teman-teman tidak mengetahui kondisi kesehatan yang datang. Baru diketahui apakah positif atau negatif setelah diswab,” ujarnya.

Lama-kelamaan, Nisa mulai terbiasa mengadapi situasi yang tak menentu. Rasa takut berangsur hilang. Ia  tak lagi dirundung resah saat menjalankan tugasnya sebagai tim medis.

Menurut pengamatan Nisa, dulu para relawan juga terlihat cemas ketika menunggu hasil laboratorium. Tapi, waktu yang akhirnya membuat para relawan memiliki nyali saat tes swab.

BACA JUGA: Bagaimana Cara Menyimpan Daging Kurban? Ini Tips dari Fakultas Peternakan UGM

Relawan yang bertugas melakukan evakuasi itu  tak lagi ketakutan. Mereka tampak rileks saat menunggu hasil tes.

“Alhamdulillah. Seingat saya, tidak ada relawan yang dinyatakan positif setelah menjalankan tugas,” katanya.

Pasalnya, para relawan sangat menjaga protokol kesehatan ketika melakukan evakuasi. Setelah pulang dari lapangan, relawan juga harus “mandi dekon”.

Itulah sebabnya, setiap tes swab, hasilnya selalu negatif.

“Tuhan selalu menjaga keselamatan siapa saja yang ikhlas berbuat baik untuk kemanusiaan,” kata Nisa.

Kembali kepada cerita Nisa saat melakukan swab. Dua minggu lalu ketika kasus positif melonjak di DIY, Posduk Penanganan Satgas COVID-19 DIY didatangi ratusan pegawai lingkungan pemerintah daerah.

BACA JUGA: Dewan Ingin Warga Terdampak PPKM Darurat Segera Diberi Bantuan

Mereka harus menjalani tes swab setelah “terkena” tracking. Banyak pegawai yang melihatkan wajah resah ketika akan diswab.

Bahkan, ada yang ketakutan melihat hidung disogok. Tapi, ada pula yang biasa-biasa saja.

Namun, setelah hasil laboratorium diumumkan, dan dinyatakan “negatif”, mereka menghela nafas lega. Ada juga yang shock saat hasilnya ‘”negatif”.

Nisa mengatakan, rapid tes antigen untuk mengetahui seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak. (aza/asa)