oleh

Pendidikan jadi Kunci Persatuan Bangsa | Drs HM Afnan Hadikusumo

DIAKUI atau tidak, ada hubungan erat dan dinamis antara pendidikan dan politik di setiap Negara. Hubungan tersebut merupakan kenyataan empiris yang terjadi sejak awal perkembangan peradaban manusia dan menjadi perhatian para ilmuwan.

Pendidikan sering dijadikan media penanaman ideologi Negara atau lahan penopang kerangka politik. Kajian tentang hubungan antara pendidikan dan politk dimulai oleh Plato dalam bukunya yang berjudul “Republic” yang membahas hubungan antara ideologi dan institusi Negara dengan tujuan dan metode pendidikan.

Dalam buku tersebut, Plato menguraikan bahwa pada budaya Helenik, sekolah merupakan salah satu aspek kehidupan yang terkait dengan lembaga-lembaga politik.

Plato memberikan gambaran tentang adanya hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan dan aktivitas politik. Keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak mungkin terpisahkan.

Pendapat yang sama disampaikan Abernethy dan Coombe (1965 : 287), menurutnya education and politics are inextricably linked (pendidikan dan politik terikat tanpa bisa dipisahkan).

Dikatakan bahwa hubungan timbal balik antara politik dan pendidikan dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran (employment), dan peranan politik kaum cendikia (the political role of the intelligentsia).

BACA JUGA: KKN, Mahasiswa UMBY Kembangkan Aplikasi Pendataan Penduduk

Peran Kaum Terdidik dalam Menjaga Persatuan Bangsa

Pemerintah kolonial Belanda memberikan peluang kepada masyarakat Indonesia untuk dapat memperoleh pendidikan.

Golongan terpelajar yang lahir dari pelaksanaan pendidikan Belanda antara lain; Dr. Soetomo, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), Mohammad Hatta, Mohammad Syafe’i dan lainnya. Sedangkan uyang berlatar belakang pesantren adalah KHA. Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari, dll.

Golongan terpelajar memegang konstribusi penting dalam pergerakan nasional Indonesia. Golongan terpelajar berusaha untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Indonesia di bidang pendidikan, bidang ekonomi, munculnya kesadaran nasional untuk berbangsa dan bernegara, dan bidang sosial.

Belajar dari Pecahnya Negara Besar

Uni Soviet merupakan salah satu negara adikuasa pemenang Perang Dunia II. Pada 1947-1991, Uni Soviet menjadi pusat dari aliansi negara komunis Blok Timur selama Perang Dingin.

Hingga awal tahun 1991, Uni Soviet adalah negara dengan wilayah kekuasaan terbesar di dunia. Masa kejayaan Uni Soviet tidak mampu bertahan lama. Setelah 69 taun berdiri, Uni Soviet mengalami keruntuhan pada Desember 1991. Keruntuhan Uni Soviet bermula dari kemerosotan ekonomi pada sekitar tahun 1980.

BACA JUGA: Awan Panas Gunung Merapi Dominan ke Arah Barat Daya

Kemerosotan ekonomi tersebut berdampak negatif pada seluruh aspek kehidupan Uni Soviet. Secara khusus, berikut faktor-faktor penyebab runtuhnya Uni Soviet:

  1. Munculnya ketidakpuasan kelas menengah dan kelompok elite terhadap penerapan sistem komunisme.
  2. Sistem ekonomi sentralistik yang diterapkan menyebabkan susahnya pemerataan kesejahteraan dan perkembangan ekonomi daerah. Korupsi di kalangan partai komunis dan pemerintahan.
  3. Munculnya gerakan separatisme di negara-negara bawahan Uni Soviet.
  4. Presiden gagal melakukan perbaikan sistem pemerintahan komunis di Uni Soviet.

Hal yang sama juga menimpa Yugoslavia, maupun Cekoslovakia. Keruntuhan Yugoslavia tidak dapat dipisahkan dari meninggalnya presiden Josep Broz Tito.

Dalam buku Sejarah Eropa: Dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern (2012) karya Wahjudi Djaja, Josep Broz Tito adalah sosok pemimpin yang mampu membawa Yugoslavia mencapai puncak kejayaan pada tahun 1953-1980.

Pada masa pemerintahan Broz Tito, Yugoslavia menjadi negara yang kuat tanpa bergantung pada kekuatan Blok Barat maupun Blok Timur.

Pada tahun 1987, terjadi krisis ekonomi dan politik tingkat nasional di Yugoslavia. Krisis tersebut disebabkan oleh perpecahan antar-etnis dan kondisi pemerintahan yang tidak menentu.

BACA JUGA: Kasus Positif di DIY Naik Lagi, Pasien Sembuh Bertambah Banyak

Kejadiannya Hampir Sama

Bersatunya sebuah negara itu disebabkan oleh kesamaan tujuan, kesamaan cara, kesamaan pikiran menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Sehingga jika belajar dari negara-negara besar yang kemudian terpecah, maka ada kemiripan penyebab pecahnya negara tersebut :

  1. Otoritarian;
  2. Ekonomi terpusat;
  3. Ketidak adilan;
  4. Merebaknya KKN;
  5. Hilangnya keteladanan;.

Kunci berjalannya persatuan bangsa dengan melalui jalur Pendidikan. Para pendiri negeri ini telah memikirannya dengan seksama akan arti pentingnya Pendidikan ini.

Sehingga isu sentral pada saat itu adalah bagaimana masyarakat mampu melawan kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. (*)

* Penulis adalah Anggota DPD DIY Dapil DIY

* Disampaikan dalam Diskusi yang diselenggarakan Taman Siswa tanggal 10 Agustus 2021 via zoom meeting.