Tutup
Kronika

Sosok Pelestari Budaya Itu Telah Tiada, Seniman Godod Sutejo Berduka

210
×

Sosok Pelestari Budaya Itu Telah Tiada, Seniman Godod Sutejo Berduka

Sebarkan artikel ini
BERDUKA: Godod Sutejo dan Agus (berkaos), teman ngobrol di Angkringan Regol Gerejo berdiri di sebelah foto almarhum.(azam/zonajogja.com)

ZonaJogja.Com – Innalillahi wa innailaihirojiun. Seniman Godod Sutejo dan Atik, isterinya, sedang berduka.

Atik dan Godod kehilangan Sugiono bin Ismail Atomogerjito, sosok ayah yang sangat dicintai.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Sugiono menghembuskan nafas terakhir di rumanya di kawasan Sunter, Jakarta, 10 Februari 2024 sekitar pukul 7.35.

Sugiono yang lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, 13 Maret 1983 ini meninggal dunia pada usia 86 tahun.

“Kami semua merasa kehilangan,” kata Atik, anak sulung pasangan Sugiono dan Sudarmi.

BERITA LAIN:

PENIKMAT WAYANG KULIT: Sugiono (tengah) bersama GBPH Yudaningrat dan Godod Sutejo pada acara pentas wayang kulit. (istimewa)

Kabar meninggalnya Sugiono langsung menyebar ke mana-mana. Masyarakat Suryodiningratan, seniman, budayawan terus berdatangan untuk melayat.

Antara lain Yani Saptohoedojo, para penghayat Hosoko, Hardo Pusoro , SBP 45 , Putro Romo, dan kelompok meditasi serta an warga komunitas Angkringan Regol Gerejo (ARG).

Sugiono yang akrab disapa Mbah Yog dikenal sebagai seorang yang bersahaja.

BERITA LAIN:

PENGHORMATAN: Masyarakat menshalatkan almarhum Sugiono. (istimewa)

Pengalaman hidupnya segudang. Saat berusia 14 tahun mencari uang di Surabaya. Pria yang ramah dengan siapapun ini juga pernah membanting tulang di Kriyan, Jawa Timur.

Bahkan, pernah menjadi supir polet di Malang, Jawa Timur. Meski sibuk mencari uang, Sugiono tetap menyempatkan diri membaca buku dimanapun, kemanapun berada.

Buku yang dibaca kebanyakan tentang sejarah, seni dan budaya. Itulah sebabnya, Sugiono dikenal sebagai sosok yang konsisten mempertahankan budaya Jawa.

BERITA LAIN:

JADI TELADAN: Sugiono bin Ismail Atomogerjito. (istimewa)

Sugiono juga seorang pengkritik yang solutif. Ide dan gagasannya memberi warna positif bagi kehidupan.

“Beliau menjadi panutan bagi kami. Perjalanan hidup beliau menjadi ilmu bagi kami semua,” ujar Rini, anak ketiga.

Tak hanya di Surabaya, Malang dan Jakarta, Di Yogyakarta, Sugiono memiliki teman segudang.

Salah satu lokasi yang sering didatangi adalah angkringan di Jalan Bantul. Persisnya di sisi selatan pintu masuk Gereja Pugeran.

Mbah Yog telah tercatat menjadi anggota komunitas Angkringan Regol Gerejo (ARG). Komunitas ini beranggotakan 65 orang.

“Almarhum orang yang baik. Apa yang disampaikan selalu positif dan memberi manfaat,” ujar Agus, salah satu anggota ARG.

BERITA LAIN:

TAKZIAH: Yani Saptohoedojo melayat almarhum Sugiono. (istimewa)

Kini, sosok orang baik itu telah pergi selama-lamanya. Jenazah Mbah Yog sekitar pukul 08.00 pagi tadi diberangkatkan ke Makam Dersono, Mojogedang, Karanganyar, Jawa Tengah.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan di kediaman Godod Sutejo di Jalan Suryodiningratan MJ 2/641 Kav BNI Yogyakarta.

Puluhan orang melepas kepergian Mbah Yog selama-lamanya. Mbah Yog meninggalkan seorang isteri bernama Soedarmi serta tiga anak  bernama Atik, Sugiarto dan Rini.

Atik adalah isteri Godod Sutejo. Sugiarto beristerikan Wahyungningsih. Sedangkan Rini dipersunting Dwi Decy Artian Mahartono. (*)