Tutup
Opini

Ketika Indonesia Ingin Maju, Budaya Sendiri Ditinggalkan | oleh: KPH Notonegoro

317
×

Ketika Indonesia Ingin Maju, Budaya Sendiri Ditinggalkan | oleh: KPH Notonegoro

Sebarkan artikel ini
KPH NOTONEGORO (mukijab)

KEMAJUAN negara ditentukan kekuatan memelihara dan menghidupkan budaya.  Korea Selatan saat ini bisa menguasai pangsa pasar budaya pop di dunia lantaran mengoptimalkan dan meningkatkan harkat budaya sendiri.

Ironis ketika Indonesia ingin maju, sementara budaya sendiri ditinggalkan, dicampakkan, dilupakan.

Advertisiment
Scroll ke bawah untuk berita selengkapnya

Budaya pop Korea Selatan mendunia bukan karena mereka menggunakan bahasa dan pakaian negara lain. Mereka sangat menghargai budaya sendiri.

Amerika negara paling susah ditembus budaya dari negara lain. Tetapi, berbagai budaya pop Korea Selatan bisa menembus pasar.

Menjadi bagian warga mereka. Ini menunjukkan betapa kuat bangsa Korea menghargai budaya sendiri. Memiliki kemauan keras membawa budaya ke seluruh dunia.

Bangsa besar selalu menghidupkan budayanya sendiri.  Saya ingin bercerita ketika  bertugas di Samoa di Samudra Pasifik bagian selatan sebagai pejabat United Nations Development Programme.

Budaya warga setempat pada kaum lelaki memakai celana pendek mirip rok. Pakaian itu selalu dipakai para lelaki. Dari warga biasa sampai pejabat tinggi, termasuk presiden.

Dalam acara kenegaraan, celana pendek laki-laki harus dipakai. Mereka berpandangan celana panjang simbol dari budaya penjajah.

Para diplomat dari Amerika sangat sulit dengan celana pendek mirip rok. Tetapi karena budaya celana pendek di Samoa telah menasional dan berlaku dalam acara resmi, para diplomat dari semua negara harus mengikuti.

Dalam konteks Indonesia, anak-anak muda sangat susah bicara bahasa daerah sendiri. Begitu juga memakai pakaian tradisi. Kalau terpaksa harus bicara bahasa daerah, misalnya bahasa Jawa, ucapannya Jawa ngoko.

Saat harus berpakaian tradisi, dia akan lari ke salon, rias dan sewa pakaian. Celakannya, perias di salon tidak memahami tradisi. Sehingga mereka asal merias dan menyewakan pakaian tradisi, meskipun ketentuan pakaian tidak sesuai aturan tradisi.

Jangan lupa, kemajuan bangsa sangat ditentukan kemajuan budayanya. Bangsa yang ingin maju harus ngugemi budaya sendiri. ***

 

  • Penulis adalah Penghageng KHP Kridhomardowo Kraton Ngayogyakarta
  • Disarikan dalam seminar “Refleksi Menuju Pancawindu Widya Mataram” di Pendopo Agung Universitas Widya Mataram, 17 Februari 2022.