Yogyakarta, ZonaJogja.Com – Setiap pagi, kedatangan pria satu ini selalu ditunggu ibu-ibu yang tinggal di Notoprajan, Suronatan, Ngadiwinatan dan sekitarnya.
Pria ini bernama Anton. Tapi, populer dengan panggilan “Pak Yur”. Mengapa disapa “Pak Yur”, karena sehari-harinya berjualan sayur-mayur keliling.
Pria yang tinggal di Medari, Kabupaten Sleman ini memulai menjadi pedagang sayur sekitar 9 tahun lalu.
Anton keluar dari rumah pukul 03.00 dinihari. Lalu menuju pasar, supaya tak kehabisan dagangan.
Sayuran itu diambil dari petani. Kadang juga membeli di pasar tradisional di Muntilan, Jawa Tengah, atau pasar Tempel di wilayah Sleman.
BERITA LAIN: Lazismu DIY Salurkan Rp 1,6 Miliar kepada 704 Guru Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah
Ia menjajakan berbagai sayuran segar menggunakan sepeda motor. Mulai kacang-kacangan, bayam, kangkung, kenikir, kobis, ketela, dan sayuran lain.
Juga menjual buah-buahan, seperti pepaya, mangga, timun, pisang, kelapa muda, bahkan sempat membawa durian.
Melengkapi dagangan, Anton menjual berbagai panganan ringan. Ada kerupuk, lempeng, peyek, apem, roti, gethuk, wajik dan ketan.
“Saya ingin menyediakan semua kebutuhan konsumen,” kata Anton.
Meski harus menyiapkan segalanya, Anton tak pernah meninggalkan kewajiban shalat, termasuk saat shalat subuh.
BERITA LAIN: Jaga Nasabah, LPS Perkuat Ketahanan Siber

Setelah itu, mengenakan jaket untuk menahan dingin, Anton lantas tancap gas membawa dagangan ke arah selatan ke Kota Yogyakarta.
Dulu, barang dagangan diangkut di keranjang kanan-kiri yang ditempatkan di jok belakang. Kini, Anton menggunakan kendaraan roda tiga dengan daya tampung yang lebih besar.
Sekitar 45 menit kemudian, Anton tiba di lokasi berjualan. Yakni di Jalan Taqwa Notoprajan. Ia menjajakan dagangan di depan rumah Imah, warga RT 36 RW 6 Notoprajan.
Berjualan seminggu empat kali. Waktunya tidak pasti. Saat tiba di lokasi berjualan, suasana masih sepi. Selanjutnya
membongkar sebagian dagangan di jalan yang telah diberi alas.
BERITA LAIN: Waspadai Tikus ! 5 dari 18 Pasien Leptospirosis di Kota Yogyakarta Meninggal Dunia
Tak lama kemudian, para pembeli berdatangan. Apalagi bila hari Senin dan Kamis, Anton datang lebih awal. Karena Senin dan Kamis saat panen pembeli.
Mereka adalah warga yang rutin mengikuti pengajian setelah shalat subuh di Masjiq Taqwa.
Anton dikenal sebagai penjual sayuran yang ramah. Ia total melayani para pembeli. Bahkan, ia bersedia membantu membawa dagangan ke rumah pembeli.
Selain ramah, Anton juga menjual sayuran, buah-buahan dan panganan dengan harga miring.
“Harganya murah meriah,” ujar Imah. (*)











