oleh

Menjaga Keutuhan Indonesia adalah Keharusan | oleh: Sigit Sugito

MENJADI  Indonesia, bukan seperti membalikan tangan. Sejarah telah mencatat dengan berbagai catatan yang penuh dengan berbagai peristiwa.

Jauh sebelum menjadi Indonesia, berbagai kerajaan menjadi bagian dari negri yang disebut Nusantara yang kaya akan rempah-rempah. Setelah bangsa Eropa datang, disebutlah  Hindia.

Kedatangan bangsa Belanda sejak tahun 1596 dengan berbagai aktivitas dagangnya menyebutnya menjadi Hindia Belanda. Tiga ratus lima puluh tahun lamanya, kolonialisme “mengeruk” hasil bumi dari negri yang kaya akan rempah-rempah.

Berbagai pergulatan perlawanan telah terjadi, menumbuhkan kesadaran baru bagi warga, bahwa penjajahan (kolonialosme) menyemai benih kesengsaraan. Penjajahan hanya mengeruk kekayaan negri, warga tidak mendapatkan apapun kecuali peluh, darah dan juga nyawa.

BACA JUGA: Waspadai Demam Berdarah, Kasus Terus Bertambah

Kesadaran akan ketidak-adilan yang disebabkan  oleh kolonialisme memunculkan gerakan perlawanan. Gerakan yang dimotori kelas menengah terpelajar.

Budi Utomo lahir menjadi gerakan terpelajar pada tahun 1908 yang didirikan oleh Dokter Wahidin Soedirohusodo dan kawan-kawannya. Gerakan yang dikenal dengan gerakan “politis etis” dengan fokus utamanya pada bidang: sosial, pendidikan, pengajaran dan kebudayaan.

Kelahiran Budi Utomo, merubah cara perjuangan dalam mengahadapi penjajahan. Pada masa-masa awal perjuangan menghadapi penjajahan masih bersifat kedaerahan dengan perjuangan fisik.

Gerakan Budi Utomo memberikan pemahaman baru tentang arti pentingnya persatuan, dengan satu tujuan yaitu menghadapi penjajahan. Gerakan yang dikedepankan adalah gerakan pemikiran.

BACA JUGA: Duh, Kaki Pekerja Ini Terlindas Roda Kendaraan Bego

Berdirinya gerakan Budi Utomo, menginspirasi berdirinya gerakan-gerakan yang dimotori oleh kaum terpelajar, salah satunya adalah Indische Partij, menjadi organisasi gerakan politik pertama yang beralin nasionalis.

Indische Partij, didirikan oleh tiga tokoh cendikiawan yaitu: dr. Douwes Dekker ( Danudirja Setyabudhi), dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki, Hadjar Dewantara. Tujuan berdirinya organisasi gerakan adalah untuk merdeka dari penjajahan

Keutuhan Indonesia harus terus diupayakan ditengah suasana ketidak pastian yang disebabkan oleh berbagai peristiwa yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan disintegrasi bangsa dan itu harga yang sangat  mahal apabila terjadi. (*)

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Buletin Neng Ning Nung Nang