oleh

Bersama Suwito, Probosutedjo Membangun Sedayu Lewat Pendidikan

BISNIS Probosutedjo pada masa orde baru semakin merambah ke mana-mana. Suami Ratmani ini mendirikan sejumlah perusahaan. Juga membentuk yayasan sosial.

Pendiri Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HPPI) ini juga konsen terhadap sektor pendidikan.

Salah satu wujud atensinya terhadap pendidikan adalah mendirikan  Universitas Mercua Buana di Jakarta.

Lalu, Universitas Wangsa Manggala di Yogyakarta, yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Mercua Buana Yogyakarta (UMBY).

“Pakde juga mendirikan beberapa sekolah SD, SMP dan SMA di  Kecamatan Sedayu,”  kata Aryo.

Didirikannya SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi di Sedayu tidak terlepas dari peran Suwito, adik kandungnya. Lembaga pendidikan ini telah meluluskan ratusan. Bahkan, ribuan orang.

BACA JUGA: Mengenang Probosutedjo, Pengusaha Kelahiran Bantul yang Dermawan

KENANGAN: Probosutedjo saat meninjau kampus Universitas Mercu Buana Yogyakarta di Sedayu. (humas umby)

Probosutedjo juga memberi bantuan beasiswa kepada  pelajar yang membutuhkan. Termasuk berbagi sodaqoh kepada masyarakat pada setiap bulan Ramadhan.

Acara penyaluran sodaqoh biasanya dipusatkan di nDalem Probosutejan di Ngasem.

“Saya banyak belajar tentang kehidupan dari bapak (Noto Suwito, red) dan pakde Probosutedjo,” kenang Aryo.

Kata Aryo, Probosutedjo dan Notosuwito adalah sosok yang sama-sama berjiwa sosial. Sangat menghormati orang lain. Tidak pernah membuat marah orang lain.

Keduanya sama-sama berprinsip hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Hidup harus menolong dan membantu  dalam kebaikan.

Meski demikian, kehidupan Probosutedjo tidak terlepas dari “serangan “ orang lain. Bahkan, mengaku dizalimi.

BACA JUGA: Saat Bapak Menggertak Banpol yang Gaspol I oleh: Drs Sahari

KOMPAK: Probosutedjo bersama Rektor UMBY. (humas umby)

“Pakde memilih tidak bereaksi. Beliau menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan. Satu lagi, pakde itu bukan orang pendendam,” beber Aryo.

Aryo lantas membuka kenangan tanggal 28 November 2005. Waktu itu, Mahkamah Agung  menghukum Probosutedjo 4 tahun penjara ditambah denda Rp 30 juta subsider 3 bulan penjara.

Probosutedjo ikhlas menerima hukuman itu. Bahkan, setelah bebas dari Lembaga Permasyarakatan Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat tanggal 12 Maret 2008, Probosutedjo juga terlihat baik-baik saja.

Namun, perjalanan hidup Probosutedjo berhenti pada usia 87 tahun. Tanggal 26 Maret 2018,  sosok dermawan ini meninggal dunia 26 Maret  2018 di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta karena kanker tiroid.

Jasad Probosutedjo dimakamkan di Pemakaman Keluarga Gedong, Kemusuk, Sedayu, Bantul.

Probosutedjo meninggalkan enam anak. Yakni, Diniarti Pertiwi, Septanto, Rita Ria Kurnianta, Rindangsari Kurniawati, Nurani Pujiastuti dan Priasto. (asa/bersambung)