MENARIK menggali kembali epistemologi Bulaksumur, yakni tempat yang dipilih HB IX sebagai sumber keilmuan.
Tidak hanya memikirkan masa depan, tapi juga masa lalu peradaban bangsa bangsa Nusantara maupun dunia. Universitas Gajah Mada telah menjadi kawah condrodimuko di Indonesia.
Nama Bulaksumur secara etimologi terdiri dari dua kata bulak (hamparan luas) dan sumur (sumber/mata air) yang secara epistemologi maupun axiologis belum banyak digali.
Kecuali secara historis berdasarkan folk-flore mengenai asal usul nama maupun berdasarkan historiografis yang menjelaskan tempat tersebut pernah menjadi bagian dari fungsi kemiliteran pada masa masa kolonial (sekip = lapangan tembak).
BERITA LAIN: Festival Crossborder Skouw, Acara Bergengsi di Pos Lintas Batas Negara, Dihadiri Ribuan Peserta
Arti makna bulaksumur dikaitkan oase di tengah padang pasir adalah analogi tepat ketika Indonesia baru saja merdeka yang sangat membutuhkan wahana pendidikan untuk mencerdaskan bangsa setelah ditindas dan diperbodoh selama berabad abad.
Kemudian fase kekerontangan akan pencerahan ilmu terjawab dengan hadirnya universitas yang harusnya bertempat di Karanganyar, Jateng.
Namun, ditarik oleh HB IX di Yogyakarta, dan bertempat di Pagelaran Kraton Yogyakarta dan sekitarnya (ibarat musafir yang berjalan di tengah padang pasir yang kehausan, kemudian menemukan tempat untuk memenuhi kebutuhan seteguk air utk minum – seember air untuk mandi agar segar kembali.
Kisah ini jika dikaitkan perjalanan Nabi Chidir yang berada di alam kabadian (mampu menembus/melintasi batas ruang dan waktu) sejak zaman nabi Musa, mengingatkan kisah zaman Dzulqarnain hingga sekarang.
Identik dengan pencarian Maul Hayyah “air kehidupan, ilmu hidup, atau pengetahuan tentang keabadian” atau menuju insan paripurna yang jarang diungkit secara akademis.
BERITA LAIN: Rumah Matahari Turi, Villa Bernuansa Vintage di Lereng Merapi

Padahal kita sangat akrab dengan pengetahuan metafisika terkait segitiga bermuda dengan segala kemisteriannya. Dimana pesawat, kapal, bahkan mahluk hidup bisa menjadi sirna “nir kasat mata” ketika memasuki wilayah misterius.
Hal ini mengingatkan kisah Dzulqarnain ketika ingin seperti para malaikat sang utusan Allah yang senantiasa bertasbih “mensucikan-Nya”, taat dan patuh kepada Tuhan setiap saat.
Dalam kisah ini, konon Dzulqarnain dibisikin Malaikat Rofa’il agar menempuh tujuh lembah, tujuh gunung, tujuh dataran, tujuh lautan, tujuh kegelapan untuk menemukan air kehidupan atau maul hayyah agar memiliki keabadian atau ilmu kehidupan sebagaimana para malaikat Allah.
Singkat cerita, dipanggillah sang panglima kerajaan yang masih kemenakannya bernama Chidir untuk menjadi pemimpin misi suci menggunakan kendaraan kuda betina yang masih perawan.
Penglihatan dan intuisinya sangat tajam menempuh perjalanan berat (menemukan tempat misteri diantara segitiga bermudakah ?)
BERITA LAIN: Usia Ini Pengguna Paling Banyak Habiskan Waktu untuk Ngenet
Setelah menempuh perjalanan melelahkan, terdengarlah suara gemericik yang didengar Chidir, namun tidak terdeteksi oleh Dzulqarnain.
Sehingga pasukan diperintahkan segera melanjutkan perjalanan. Tapi sebelum beranjak dari tempat tersebut, Chidir dengan ketajaman mata dan intuisi melihat sumber mata air yang jernih “maul hayyah” dan turun dari kudanya berjalan menuju tempat tersebut untuk minum dan mengguyur seluruh tubuhnya dengan air.
Kemudian beranjak pergi dan menghela kudanya untuk mengikuti perintah Dzulqarnain.
Kisah klasik ini sangat jarang dijadikan wacana para pemikir mazhab positivistic karena dianggap tidak masuk akal. Tapi sangat akrab bagi kalangan pesantren tertentu yang memiliki kekhususan ilmu “takasus thd ilmu ilmu illaduni”.
Belajar dari hikmah perjalanan Dzulqarnain dan Chidir dalam menempuh perjalanan ilmu, belajar memahami cara berpikir para pendiri Mataram, termasuk HB I sd HB IX yang memilih ex Alas Bering sebagai pusat peradaban.
Dan, HB IX memilih Bulaksumur sebagai kampus UGM, serta memahami cara berpikir para begawan pendiri UGM dengan Sapta Resi atau Tujuh Begawan atau Tujuh Disiplin Keilmuan yang jadi cikal bakal fakultas fakultas di UGM.
BERITA LAIN: 87 Orang Suspek Antraks, Pemda DIY Larang Keluar Masuk Sapi dan Kambing di Semanu,
Lalu dikenal dengan cemara tujuh yangf berada di Bunderan UGM dengan menghadap selatan (laut kidul). Gedung Senat menghadap utara (Gunung Merapi) sebagai simbolisme keilmuan yang tidak terlepas dari kosmologis, epistemologis dan axiologis.
Belajar dari ilmu ilmu yang dianggap tidak logis dan bertentangan dengan teori empirisme, kiranya perlu dibangun kerangka akademis “tesis” untuk dianalisis.
Analisa tentang tujuan mulia para begawan ilmu, presiden RI, dan Sultan Yogyakarta dalam mewujudkan peradaban bangsa yang unggul, luhur dan bermartabat.
Tapi, tetap bersumberkan nilai nilai Keilahiyahan yang tidak terlepas dari proses perjalanan peradaban bangsa dari wangs satu ke wangsa lain.
Sehingga dipilihkan nama Gajah Mada sebagai simbol pemersatu bangsa atau peradabanmasa kerajaan hingga pascakemerdekaan RI agar mampu mewujudkan peradaban bangsa yang unggul dan bermartabat, sehingga disegani bangsa lain. Wallahu’alam bishawwab. (*)
Oleh: Heru Wahyukismoyo
- Penulis buku Demokrasi vs Keistemewaan DIY; Merajut Kembali Pemikiran HB IX; Kewidyamataraman (kontributor); Menggali Pemikiran Pendidikan HB IX : Membangun Paradidma Keilmuan Widya Mataram sebagai Universitas Peradaban Bangsa











