oleh

Dari Tangan Pria Ini, Ribuan Anak Telah Disunat

YOGYAKARTA – Pria bernama Sigit Hidayat Zen ini tak berlebihan disebut ahlinya mengkhitan anak.

Ia telah mengkhitan ribuan anak dari berbagai daerah di DIY dan Jawa Tengah.

Sigit  telah mengkhitan anak-anak sejak masih menjadi siswa Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Aisyiyah.

Lembaga pendidikan yang berlokasi di kampung Serangan, Ngampilan, Kota Yogyakarta ini setara sekolah menengah atas.

Sementara jarak sekolah dengan rumah orang tuanya hanya sekitar 300 meter. Sigit masuk sekolah ini tahun 1984.

“Sejak kecil saya memang bercita-cita ingin jadi perawat. Alhamdulillah, kesampaian,” ujar alumnus SMP Muhammadiyah 1 Yogyakarta.

BACA JUGA: Pesilat Tapak Suci Muhammadiyah Sukses Berlaga di PON XX

JURU SUPIT: Sigit mengkhitan anak saat liburan sekolah. (dok. pribadi)

Keahlian Sigit mengkhitan telah terlihat saat kelas II di SPK Aisyiyah Yogyakarta. Semula hanya menjadi asisten mendampingi dokter.

Selanjutnya, berbekal pengalaman dan skill, ia sendiri yang mengkhitan anak-anak.

Setelah lulus tahun 1987, Sigit bekerja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebagai perawat.

Dua tahun kemudian,  dibuka pendaftaran calon pegawai negeri sipil. Ia berinisiatif mendaftar.

“Alhamdulillah, saya diterima,” kenangnya.

Setelah dinyatakan sebagai CPNS, Sigit ditugaskan di Puskesmas Gedongtengen tahun 1989. Namun, ia juga bekerja di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

Bila pagi kerja di Puskemas. Sore di RS PKU Muhammadiyah. Di sela waktu, Sigit tetap melakukan “pekerjaan sampingan” sebagai juru khitan.

BACA JUGA: Dulu Tebar Bau Tak Sedap, Kini jadi Tempat Idola Wisatawan Domestik

Pada tahun 1992, Sigit bergabung pada salah satu lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam kegiatan sosial.

Tugasnya hanya mengkhitan. Waktunya tiga bulan sekali. Setiap pertemuan, sedikitnya mengkhitan 50 anak.

Pada tahun 1997, suami  Sunarwiyati ini memutuskan keluar dari RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Ia memilih menjadi pegawai Puskemas Gedongtengen.

Di sela-sela kesibukan sebagai pegawai negeri, Sigit  tetap mengkhitan anak-anak. Pada tahun 2006, Sigit pindah di Puskesmas Umbulharhjo 1.

Enam tahun kemudian ditarik sebagai staf Seksi Pelayanan Kesehatan Masyarakat  di Dinas Kesehatan Yogyakarta.

Pada tahun 2015, Sigit ditugaskan sebagai kepala ruang UGD RS Pratama Yogyakarta.  Hingga tahun ini, Sigit tetap menjalani pekerjaannya sebagai juru khitan.

BACA JUGA: Bawa Spirit Sekaten, Digelar Pasar Industri Kreatif di 3 Pertokoan Modern

SEHIDUP SEMATI: Sigit bersama Sunarwiyati, isterinya. (dok. pribadi)

Banyak cerita ketika menyunat anak-anak. Misalnya ada anak yang lari sebelum dikhitan. Melihat anak menangis sejadi-jadinya karena ketakutan.

Tapi, ada pula anak-anak yang gagah berani ketika hendak dikhittan. Bagi ayah tiga anak ini, mengkhitan adalah panggilan hati.

Bahkan, ia kerap menolak dibayar karena pertimbangan faktor ekonomi dari orang tua anak.

“Soal bayar nomor kesekian. Yang penting, anak dikhitan.  Saya bersyukur bisa mensyahadatkan anak-anak,” kata ayah dari  M Fatchurrahman Wachid, Afifah Nisrina dan M Khairuddin Lathif.

Namun pada tahun 2019,  intensitas Sigit mengkhitan melalui lembaga swadaya masyarakat,  berkurang. Ini karena ada larangan mengumpulkan orang saat pandemi virus corona.

BACA JUGA: Kunjungi Purbayan, GKR Hemas Disambati Terpuruknya Perajin Perak

Tapi, Sigit  masih melayani permintaan khitan secara perseorangan yang dilakukan di rumah.

Kini, Sigit semakin sibuk. Ia baru saja menerima surat keputusan yang menugaskan bertugas di poliklinik umum penyakit dalam di RS Pratama Yogyakarta.

“Saya juga tetap diberi tugas mengkhitan,” katanya. (aza/asa)